Skip to main content

Featured

pertama di indonesia

 

MAKNA GALUNGAN DAN KUNINGAN


HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

SEBAGAI HARI TEGAKNYA DHARMA*





Yadà yadà hi dharmasya

glànir bhavati bhàrata,

abhyutthànam adharmasya

tadàtmànaý såjàmy aham.



                                                                                                  Bhagavadgìtà 4.7.



(Kapanpun dan di manapun pelaksanaan Dharma merosot

 dan hal-hal yang bertentangan Dharmam merajalela, pada

waktu itulah Aku Sendiri menjelma,

wahai putra keluarga Bhàrata)









1. Pertarungan  yang tiada hentinya



        Tanggal 19 Febrauari 1997 Umat Hindu akan merayakan Hari Raya Galungan dan sepuluh hari kemudian akan disusul dengan perayaan Kuningan. Galungan dan Kuningan berlangsung selama sepuluh hari dan di India upacara yang sejenis dengan maknanya yang sama disebut Úraddhà Wijaya Dasami, har\i kemenangan atau kejayaan yang dirayakan selama 10 hari. Sebagai umat beragama tentu merasakan makna tersendiri terhadap hari-hari raya keagamaan itu. Hari-hari raya keagamaan dapat meberi motivasi kepada umat manusia untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.

       

        Umat Hindu dalam menyambut hari raya Galungan dan Kuningan tentu telah mempersiapkannya dengan berbagai sarana untuk melakukan upacara persembahyangan memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi Wasa, para Dewata dan Leluhur melalui pura keluarga, pura teritorial (Kahyangan Desa), pura fungsional (Ulunsui,Melanting dan lain-lain)  Pura Kahyangan Jagat, Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan. Kita tidaklah cukup hanya dengan melakukan sembahyang pada hari-hari raya itu, melainkan adalah menangkap hikmahnya, mengaktulisasikan nilai-nilai yang terkandung  dalam  hari - hari  raya  itu  untuk  mampu  dijadikan  penangkal pengaruh dan dampak globalisasi yang melanda planet bumi ini.   Bila kita mengkaji ajaran agama Hindu, maka  banyak  kita  temukan  butir - butir  nilai  ajaran  yang  ampuh  untuk mengantisipasi perkembangan dunia modern. Hindu memandang penjelmaan ini sangat penting dalam meningkatkan harkat, martabat dan kualitas hidup umat manusia.



            Menjelma sebagai manusia menurut ajaran Hindu adalah kesempatan yang paling dan sangat baik, karena hanya manusialah yang dapat menolong dirinya sendiri dengan jalan berbuat baik. Untuk berbuat baik dan benar nampaknya sangat sulit dilakukan oleh karena berbagai tantangan yang dihadapi oleh setiap orang. Tantangan mulai ketika bayi lahir dari kandungan ibunya. Demikian lahir langsung menangis karena ia berhadapan dengan kejamnya alam, udara yang dingin atau kilauannya sinar matahari dan lain-lain. Bayi akan tumbuh menjadi manusia dewasa bila ia mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kata dewasa dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta dari “dewasya” yang artinya milik dewa atau memiliki sifat kedewataan. Orang yang memiliki sifat-sifat kedewataan disebut dipengaruhi oleh Daiwisampat (memiliki sifat dewa atau kedewataan), dipandang sudah dewasa, karena ia memancarkan pikiran perkataan dan perbuatan yang baik dan benar. Memang sulit untuk mengejawantahkan atau mewujudkan pikiran, perkataan dan tingkah laku yang baik yang disebut Trikaya Parisuddha sebagai disebutkan oleh maharsi Wararuci dalam kitab Sarsamuccaya.



            Tantangan yang paling berat yang dihadapi oleh umat manusia adalah tantangan yang datang dalam dirinya sendiri, yakni sifat-sifat atau kecenderungan jahat yang merupakan sifat-sifat keraksasaan, kebalikan dari Daivisampat yang disebut Asurisampat (sifat-sifat Asura atau raksasa). Pertarungan antara sifat-sifat kedewataan dengan keraksasaaan inilah yang terus berlangsung dalam diri umat manusia yang sering mengejawantah dalam sikap dan prilaku sehari-hari. Pertarungan ini berlangsung terus tiada hentinya. Siapa yang berhasil memenangkan pertarungan dengan berpihak pada kebajikan atau (Dharma) ialah yang sesungguhnya berhasil menegakkan Dharma. Hanya dengan berpihak kepada Dharma seseorang akan memperoleh keselamatan, kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Kemenangan pada kebajikan atau Dharma inilah diperingati melalui perayaan Galungan dan Kuningan, yang di India dikenal sebagai kejayaan Durga berhadapan dengan raksasa Raktawijaya, atau kemenangan Sri Rama berhadapan dengan raksasa Rawana yang dirayakan dalam upacara Durgapuja atau Dipawali yang sejenis dengan perayaan Galungan dan Kuningan di Indonesia. Pertarungan yang berlangsung sepanjang sejarah manusia itu, diamanatkan supaya umat manusia senantiasa berpihak dan perpegang kepada Dharma sebagai diamanatkan dalam terjemahan sloka Mahanarayana Upanisad XXII.1, berikut:



                        Dharma adalah prinsip dasar dari segala sesuatu yang bergerak dan  yang  tidak  bergerak di alam semesta ini.Seluruh dunia dan segenap  umat  manusia  hendaknya  selalu  bergairah mengikuti ajaran Dharma.  Yang  mengikuti  ajaran  Dharma  terbebas dari segala  dosa.    Segala  sesuatunya  akan berjalan mantap bila di jalan Dharma.  Untuk  itu   patutlah  Dharma  itu disebut ajaran yang tertinggi



            Demikian pula di dalam Manavadharmaúàstra VIII.15 dinyatakan: Dharma Raksati Dharma Raksitah yang artinya mereka yang selalu melaksanakan Dharma, dilindungi oleh Dharma. Adpun terjemahan lengkapnya adalah sebagai berikut:



                        Dharma yang dilanggar menghancurkan pelanggarnya.Dharma yang dilaksanakan melindungi  pelaksananya, oleh karena itu janganlah melanggar Dharma,    sebab bagi  yang  melanggar  Dharma  akan menghancurkan  dirinya sendiri



            Demikianlah, ajaran Hindu menekankan betapa pentingnya melaksanakan Dharma untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan baik sebagai mahluk individu maupun sosial dalam hubungannya sebagai umat beragama maupun sebagai warga negara.





2. Memenangkan Dharma dalam era globalisasi



            Bagaimana kita dapat memenangkan Dharma dalam era globalisasi? Untuk menjawab pertanyaan ini pertama hendaklah kita pahami apa sesungguhnya yang dimaksud dengan globalisasi. Globalisasi berasal dari kata globe yang artinya bola dunia. Globalisasi adalah proses atau trend kemajuan dunia melalui Ilmu Pengetatuhan dan Teknologi dengan ditandai oleh derasnya arus informasi, terutama dari masyarakat maju menuju masyarakat yang sedang berkembang. Dalam era globalisasi ini seakan-akan tidak ada batas-batas antar negara atau bangsa-bangsa (Boderless nations and states) di dunia ini. Kita maklumi bersama bahwa Globalisasi tidaklah selalu berpangaruh dan berdampak negatif, banyak hal-hal positif yang dapat dipetik dalam era globalisasi ini, namun demikian pengaruh dan dampak negatifnya nampaknya cenderung lebih deras terutama menyangkut segi-segi moral, etika dan spiritual yang bersumber pada nilai-nilai agama dan budaya bangsa seperti Pancasila dan UUD 1945. Pola hidup konsumtip, kebebasan sek, perbuatan atau tindakan yang bertentangan dengan ajaran moral, etika dan spiritual akan mengancam eksistensi umat beragama dan keutuhan bangsa Indonesia.



            Trend globalisasi yang berorientasi pada hanya mencari kepuasan duniawi (material and pleasure oriented) dilatar belakangi oleh filsafat Hedonisme, suatu pandangan hidup yang berorientasi keduniawian dan tidak meyakini hukum Karmaphala maupun alam akhirat. Dalam Hindu, dinyatakan bahwa bila orientasi manusia hanya material dan kesenangan belaka, maka orang itu dinyatakan hanya memuaskan Kama (nafsu duniawi). Kama manusia tidak akan pernah merasa puas, walaupun usaha memuaskan itu dilakukan terus-menerus dengan berbagai pengorbanan. Memuaskan Kama dinyatakan sebagai menyiram api yang berkobar besar, tidak dengan air, melainkan dengan minyak tanah, maka api tersebut akan menghancurkan hidup manusia.Di dalam kitab suci Bhagavadgìtà dinyatakan bahwa Kama, di samping juga Lobha dan Krodha adalah tiga pintu gerbang yang mengantarkan Atma (roh) menuju jurang neraka dan kehancuran. Untuk itu, Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan agar umat manusia memilki kesadaran yang tinggi untuk menghindarkan diri dari ketiga belenggu tersebut.



            Bagaimana caranya kita dapat menghindarkan diri tiga pintu gerbang neraka berupa Kama, Lobha dan Krodha yang merupakan perwujudan dari perbuatan atau perilaku Adharma ? Jawabannya adalah sederhana, yaitu kita mesti kembali kepada ajaran agama. Peganglah ajaran agama sebaik-baiknya. Biasakanlah berbuat baik dan benar atau berdasarkan Dharma, yang di dalam kitab Taittiriya Upanisad I.1.11:



                                    Satyam vada Dharmacara

                             svadhyaya ma pramadah.

                            

                                    (Berbicaralah jujur/benar, ikutilah ajaran Dharma,

                                    kembangkan keingan belajar  dan  memuja Tuhan

                                    Yang Maha Esa dan  janganlah lalai/sampai lupa).



            Memang bila kita berbicara atau hanya membaca ajaran agama, nampaknya segala sesuatunya gampang dilaksanakan, namun dalam prakteknya sungguh berat. Untuk itu hendaknya ada tekad atau pemaksanaan untuk berbuat baik. Pemaksaan diri untuk selalu berbuat baik disebut Pratipaksa. Untuk kebaikan,paksakanlah, lakukankan, korbankanlah, tekunilah dan doronglah supaya perbuatan benar dan baik itu menjadi identitas kehidupan ini. Identitas atau integritas seseorang dapat dilihat dari kualitas pikiran, ucapan dan tingkah laku seseorang.



            Untuk selalu dapat berbuat baik, maka Bhagavadgita yang merupakan sabda Tuhan Yang Maha Esa menyatakan bahwa setiap orang hendaknya melakukan 4 hal, yaitu:



a. Abhyasa, yang artinya: untuk perbuatan baik lakukanlah dan biasakanlah hal itu.



b.Tyàga atau Wairagya, artinya: kendalikanlah atau tinggalkanlah perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan hidup kita.



c. Santosa, artinya beryukurlah terhadap karunia Tuhan Yang Maha Esa, memberikan

     kita kesempatan menjelma sebagai manusia untuk biasa memperbaiki diri dan

     kesadaran untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan kita untuk mencapai  

     Jagadhita  (kesejahtraan jasmaniah) dan Moksa (kebahagiaan sejati).



d. Sthitaprajna, artinya hidup berkeseimbangan lahir dan batin, tidak terlalu 

   bergembira bila memperoleh keberuntungan dan tidak putus asa bila menghadapi kemalangan atau kedukaan. Hidup yang stabil, berkeseimbangan lahir dan batin dapat digambarkan sebagai seorang pemain selancar (surfing) yang mahir.Bagaimanapun besarnya gelombang, ia hadapi dengan senyum simpul.Sekali-kali tenggalam digulung ombak, kemudian muncul tersenyum di atas gelobang. demikian pula kita menghadapi gelombang kehidupan.      



            Bila kita senantiasa berpegang kepada ajaran agama dan selalu mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewata dan leluhur, nisacaya hidup kita akan tentram dan bahagia.













3.Aktualisasi makna hari raya Galungan dan Kuningan



        Hari-hari raya keagamaan akan berlalu begitu saja bila kita tidak menyingkapi makna atau nilai-nilai yang terkandung dalam hari-hari raya itu. Selanjutnya dengan pemahaman terhadap makna atau nilai-nilai itu, seseorang hendaknya dapat mengamalkan atau melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Galungan dan Kuningan adalah hari kemenangan dan kesadaran terhadap ajaran Dharma. Hanya dengan Dharma umat manusia akan selamat di dunia ini. Bagaimana mengaktulisasikan ajaran Dharma ini ? Secara sederhana adalah dengan merealisasikan 7 macam perbuatan yang disebut Dharma, yaitu:



a.  Sila, yakni senantiasa berbuat baik dan benar.



b. Yajna, yakni ikhlas berkorban. Yajna tidaklah hanya terbatas pada pengertian upakara dan upacara saja, melainkan mengembangkan kasih sayang dan keikhlasan.



c.  Tapa, pengekangan dan pengendalian diri.



d. Dana, memberikan pertolongan atau bantuan kepada yang miskin dan yang memerlukan bantuan. Dalam Hindu dinyatakan menolong orang-orang miskin disebutkan sebagai menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang ber-abhiseka (disebut dengan nama) Daridra Narayana.



e. Prawrijya, mengembara menambah ilmu pengetahuan atau kerohanian (spiritual).



f.  Diksa, penyucian diri dan



g. Yoga, senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.



        Dengan melaksanakan ketujuh butir-butir perbuatan tersebut di atas sesungguhnya kita sudah dapat mengamalkan ajaran agama. Aktualisasi dari ajaran ini dikaitkan dengan masalah-masalah kekinian, misalnya dengan meningkatkan solidaritas sosial (kesetiakawanan sosial), membantu program pemerintah mengentaskan kemiskinan, mengembangkan moralitas dan mentalitas yang baik dan positip serta senantiasa aktip membangun masyarakat lingkungan di sekitar kita.



            Demikian antara lain aktualisasi makna hari raya galungan dan Kuningan dikaitkan dengan usaha untuk mengantisipasi pengaruh dan dampak negatip globalisasi. Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan, semoga Dharma senantiasa Jaya.

Comments

Popular Posts